Release: Cara Pandang Baru Ketatanegaraan dalam Putusan Mahkamah Konstitusi

Keunikan dalam buku ini berangkat dari titik sejarah yang dipaparkan oleh Fajlurrahman. Menurutnya, muatan dalam buku ini memberikan ciri dari konsistensi dan nuansa sejarah. “Di tiap bab ini yang bagus adalah konsistensi (yang) saya lihat, di dapus dan pembahasan, semuanya bab itu dimulai sejarah singkat,” jelasnya yang juga merupakan Direktur Eksekutif Republik Institute. Pernyataan tersebut pun didukung pula oleh Fitrah, “Saya sangat jarang nemukan buku sejarah konstitusi atau sejarah ketatanegaraan, buku ini dapat menjadi rujukan dalam melihat sejarah ketatanegaraan di Indonesia.”

Namun, dibalik banyaknya kelebihan buku ini,  tidak meninggalkan beberapa cacatan penting. Fitrah banyak mengkritisi beberapa kesalahan dalam penulisan, salah satunya adalah pada halaman 219, dalam buku tertulis jika Pemilihan Umum 2004 diikuti oleh 4 pasangan calon (paslon). Namun, semestinya diikuti oleh 5 paslon dengan kurangnya pasangan Hamzah Has dan Agum Gumelar.

Pada sisi lain, kelebihan dan kekuran

gan buku ini mampu memberikan sudut pandang baru untuk penulis selanjutnya. Saldi juga menegaskan jika dalam menulis, jangan hanya merujuk pada UUD 1945 dan undang-undang saja karena itu tidak akan cukup menjadi landasan tetapi juga harus merujuk pada Putusan MK. Hal demikian dikarenakan Putusan MK adalah sumber yang paling berkembang dan banyak melalui revisi. “Mudah-mudahan buku ini bisa mendorong penulis-penulis lain yang berminat untuk isu-isu hukum tata negara bisa mulai melakukan telaah (putusan MK),” tutup Saldi. (Azalia Deselta)